RENUNGAN SENJA
Oleh: Yafshil
Ismal
(Guru di SMPN 1 Baso dan di SMPS TahfizhulQur'an Balai Gurah Ampek Angkek)
(Guru di SMPN 1 Baso dan di SMPS TahfizhulQur'an Balai Gurah Ampek Angkek)
Sore jelang malam. Di senja hari ini, sendiri.
Merenungi hari, apakah beruntung di hari lalu, beruntung di hari ini, dan
beruntung di hari esok.
Waktu kemarin, telah berlalu, tak jumpa lagi untuk
selamanya. Tak banyak yang dapat diperbuat, agar memberi manfaat. Waktu,
sedetik..bahkan sepersekian detik..yang lalu, telah berlalu, tak dapat dikejar.
Waktu terus melaju, berputar seiring berputarnya bumi siang dan malam.
Waktu lalu, hal yang paling jauh. Jauh pergi tanpa
permisi apalagi kompromi. Pergi tak perduli orang sedang apa, mengapa, dan
bagaimana. Itulah..hari, di senja ini, merenung jelang malam tiba. Bahagiakah
diri?
Tak banyak yang dapat diperbuat, kerja dunia
maupun akhirat.
Ya, Tuhan, jika batas umur ini masih panjang, tentu akan terus berjuang,
berpacu dengan waktu. Tak ada waktu luang. Waktu adalah uang. Waktu terasa
sempit. Waktu adalah duit. Terus berjuang. Waktu adalah pedang. Pedang untuk
berjuang.
Waktu, di waktu lalu, waktu terbuang, waktu
dibuang-buang.
Waktu lalu, hal yang paling jauh, tak dapat diulang. Tak terbayang memang,
kini jadi penyesalan. Masih adakah waktu yang panjang? Untuk menebus waktu
lalu, untuk berjuang menggunakan pedang. Semoga masih ada waktu.
(Dimuat di Wahana Media Sl 15-03-2011 hal.14).
(Dimuat di Wahana Media Sl 15-03-2011 hal.14).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar