Minggu, 29 April 2012

artikel: renungan senja


RENUNGAN SENJA
Oleh: Yafshil Ismal
(Guru di SMPN 1 Baso dan di SMPS TahfizhulQur'an Balai Gurah Ampek Angkek)

Sore jelang malam. Di senja hari ini, sendiri. Merenungi hari, apakah beruntung di hari lalu, beruntung di hari ini, dan beruntung di hari esok.
Waktu kemarin, telah berlalu, tak jumpa lagi untuk selamanya. Tak banyak yang dapat diperbuat, agar memberi manfaat. Waktu, sedetik..bahkan sepersekian detik..yang lalu, telah berlalu, tak dapat dikejar. Waktu terus melaju, berputar seiring berputarnya bumi siang dan malam.
Waktu lalu, hal yang paling jauh. Jauh pergi tanpa permisi apalagi kompromi. Pergi tak perduli orang sedang apa, mengapa, dan bagaimana. Itulah..hari, di senja ini, merenung jelang malam tiba. Bahagiakah diri?
Tak banyak yang dapat diperbuat, kerja dunia maupun akhirat.
Ya, Tuhan, jika batas umur ini masih panjang, tentu akan terus berjuang, berpacu dengan waktu. Tak ada waktu luang. Waktu adalah uang. Waktu terasa sempit. Waktu adalah duit. Terus berjuang. Waktu adalah pedang. Pedang untuk berjuang.
Waktu, di waktu lalu, waktu terbuang, waktu dibuang-buang.
Waktu lalu, hal yang paling jauh, tak dapat diulang. Tak terbayang memang, kini jadi penyesalan. Masih adakah waktu yang panjang? Untuk menebus waktu lalu, untuk berjuang menggunakan pedang. Semoga masih ada waktu.
(Dimuat di Wahana Media Sl 15-03-2011 hal.14).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar