Rabu, 09 Januari 2013

artikel: Hindari Musibah dengan Bersyukur


HINDARI MUSIBAH DENGAN BERSYUKUR
YAFSHIL ISMAL
(Guru IPA SMPN 1 Baso dan SMP Tahfizhul Qur’an Balai Gurah Ampek Angkek)


Berbagai musibah telah datang kepada umat di dunia ini, lantaran banyak di antara umat yang tidak bersyukur kepada-Nya. Termasuk negeri yang kita cintai ini, telah ditimpa: tsunami, gempa bumi, dan wabah, serta banyak lagi musibah lainnya.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada mu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sungguh azab-Ku sangat pedih, (QS. Ibrahim: 7).
Musibah dapat dihindari dengan bersyukur kepada-Nya. Tanda orang yang bersyukur (beriman dan bertakwa), mereka meramaikan dan menghidupkan masjid-masjid.
Tiada suatu azab pun yang didatangkan oleh Allah Swt. kepada suatu penduduk bumi, melainkan azab tersebut tidak akan mengenai orang-orang yang menghidupkan masjid-masjid.
Yang dimaksud dengan meramaikan dan menghidupkan masjid-masjid ialah orang-orang yang selalu mengerjakan ibadah di dalam masjid sehingga masjid tampak ramai dan hidup, tidak sepi.
Sesungguhnya Allah Swt. apabila menurunkan azab dari langit kepada penduduk bumi, maka azab tersebut dihindarkan dari orang-orang yang meramaikan masjid-masjid, (Riwayat Asakir melalui Anas r.a.).
Abu Darda r.a. berkata, “Kebiasaan Rasulullah saw, apabila terjadi angin bertiup sangat kencang (angin ribut), beliau terlihat cemas, kemudian segera pergi ke masjid”.
Aisyah r.a. berkata, “Apabila terjadi mendung, awan hitam, dan angin kencang, wajah Nabi saw. yang biasa memancarkan nur, akan terlihat pucat karena takut kepada Allah.”
Aisyah r.a. berkata lagi, “Apabila hujan mulai turun, maka wajah Nabi saw. menjadi ceria. Saya bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, apabila terlihat awan mendung semua orang merasa gembira karena menandakan hujan akan turun, tetapi mengapa engkau justru terlihat cemas?” Beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bagaimana saya dapat meyakini bahwa angin kencang dan awan mendung itu tidak akan mendatangkan azab Allah? Kaum ‘Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Ketika mereka melihat awan mendung, mereka merasa gembira karena mengira akan segera turun hujan. Padahal bukan hujan yang turun, melainkan azab Allah untuk membinasakan mereka.”
Inilah contoh tauladan Nabi bagi kita. Lihatlah diri kita yang bergelimang dengan dosa, jarang merasa takut apabila terjadi gempa bumi, angin topan, dan lainnya. Hanya sedikit yang bertaubat dan mengerjakan shalat ke masjid.
Segala musibah, tidak ada seorang pun yang menginginkannya, tetapi itu semua datang dari Allah Swt.  
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, Yaitu  orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (artinya: sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali), (QS. Al-Baqarah: 155-156).
Musibah merupakan ujian untuk mengingatkan manusia kepada-Nya dan untuk membersihkan diri manusia dari dosa.
Ujian berguna untuk ke arah yang lebih baik, ibarat anak sekolah akan naik ke kelas yang lebih tinggi, apabila lulus dalam ujian. Ujian yang datang kepada seorang hamba Allah, adalah untuk meninggikan derajat hamba Allah yang bersangkutan.
Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memberinya cobaan supaya Allah mendengar tadharru’-nya (rintihan meminta kepada-Nya), (Riwayat Baihaqi melalui Abu Hurairah r.a.).
Marilah beribadah di dalam masjid! Agar masjid-masjid ramai, dipenuhi orang-orang yang zikir, shalat, dan membaca Qur’an. Ini sebagai tanda syukur kepada-Nya. Sehingga musibah terhindar dari kita, yang datangnya tiba-tiba.

Jumat, 23 November 2012

AYAH.., KU RINDU..



AYAH.., KU RINDU..

Ayah.., ku rindu..
kapan kita akan bertemu..?
Ayah telah dulu
menemui Al-Khaaliqu

Ayah.., ku rindu..
ku ingin menyusul mu,
tapi..
belum waktu

Ayah.., ku rindu..
ku yakin.., akan tiba jua waktu
menemui Al-Qudduusu

Ayah.., ku rindu..
kerinduan ku bukan ingin cepat menemui mu
bukan pula ingin berlama menemui mu,
Al-Muqtadiru

Yang Sangat Berkuasa
menentukan kita

Ayah.., ku rindu..
ku yakin..,
cepat atau lambat
cepat bukan dipercepat,
lambat bukan diperlambat,
ku akan menemui hal yang sama
Al-Hayyu tidak selamanya menghidupkan ku

Ayah.., ku rindu..
kerinduan ku bawa dalam do’a,
do’a yang ayah ajarkan pada ku,
kata mu: “do’a anak yang soleh dan solehah”
bukan anak yang “salah”

Ayah.., ku rindu..
do’a ku selalu,
agar ِAl-Gaffaaru mengampuni dosa mu
agar ِAl-Ghafuuru menghapus salah mu
agar Al-Kabiiru melapangkan kubur mu

Ayah.., ku rindu
semoga Al-Mujiibu mengabulkan do’a ku
untuk mu

Ayah.., ku rindu
kapan kita akan bertemu..?
Al-Mumiitu yang tahu.

(Selasa 11 September 2012/24 Syawal 1433 H) 

(Al-Khaaliqu =  الخالق  =  Yang Maha Pencipta)
(Al-Qudduusu = القدوس    =  Yang Maha Suci)
ِ)Al-Muqtadiru =  المقتدر   =  Yang Sangat Berkuasa)
(Al-Hayyu  =   الحي  =   Yang Maha Hidup)
(Al-Gaffaaru =  الغفار   =  Yang Maha Pengampun)
Al-Ghafuuru =   الغفور  =  Yang Maha Pengampun)
(Al-Kabiiru =  الكبير   = Yang Maha Besar)
 (Al-Mujiibu =  المجيب   =  Yang Mengabulkan Do’a)
(Al-Mumiitu =    المميت= Yang Maha Mematikan)

puisi: JANGANLAH PATAH


                                  Sumber Foto: http://world-aquaculture.blogspot.com

JANGANLAH PATAH

Andai ikan yang berenang,
patah sirip
sirip patah
patah patah sirip
sirip patah patah,
mau berenang ke mana?
ke mana mau berenang?
mau ke mana mana, berenang..
tak mampu
tak bisa 
tak tak tak

andai burung yang terbang,
patah sayap
sayap patah
patah patah sayap
sayap patah patah,
mau terbang ke mana?
ke mana mau terbang?
mau ke mana mana, terbang..
tak mampu
tak bisa
tak terbang
tak tak tak

andai si pembicara patah kata,
mau kata apa?
apa mau dikata?
mau bicara apa?
mau kata kata apa?
terbata bata kata
tak bicara
bicara.. tak.. tak.. tak..

andai si penulis patah pena,
bagaimana coba?
andai si buta patah tongkat,
bagaimana coba?
andai si musafir patah jalan,
patah kaki,
bagaimana coba?
andai kendaraan patah kemudi,
bagaimana coba?
andai harimau patah gigi,
gigi gigi, patah..
gigi taring, gigi seri,  
patah kuku,
kuku kuku, patah..
kuku kaki,
patah kaki,
kaki, patah patah
bagaimana coba?

Andai diri,
andai terjadi
patah hati
patah semangat
patah selera
patah segala
segala patah,
patah..patah..
hati hati
patah hati, patah jari patah gigi patah tulang patah taring,
patah..patah..
andai bisa disambung
tak sekuat semula.

Jagalah hati jagalah diri,
jagalah mata jagalah telinga,
jagalah kata jagalah bicara,
jagalah jari jagalah kaki,
jagalah langkah,
jagalah jagalah
hati, hati hati
Janganlah patah
patah..patah..janganlah
janganlah patah patah.
Janganlah patah

patah hati, tumbuhlah
patah tumbuh
hilang berganti
semangatlah
kuatlah,
jagalah sehat,
andai sakit..
sehatlah,
semoga.

Hidup ini penuh makna
penuh arti 
penuh warna
warni,
hidup tak sendiri,
kebersamaan
teman sahabat kerabat handai tolan
lingkungan.

Hidup itu sangat berarti.
Hidup itu bergerak,
bergerak itu ada perubahan,
andai tak ada perubahan
berarti mati dalam kehidupan.

Hidup..
Kehidupan..
janganlah patah,
patah..patah..
jangan.
Janganlah patah.

(18/11/12).